<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="99861">
<titleInfo>
<title>Teologi publik:</title>
<subTitle>Wilhelm Johannis Rumambi</subTitle>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Simon, John Christianto</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm></place>
<publisher>BPK Gunung Mulia</publisher>
<dateIssued>2025</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition>Cet. 1</edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Print</form>
<extent>xxii, 59 p.; 23 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>THINK GLOBALLY ACT LOCALLY
Pembangunan Jemaat yang Vital dan Menarik di Konteks Gereja Toraja Menuju Cereja Publik Kontekstual

Gereja Toraja sebagai identitas keagamaan di tengah masyarakat Toraja sadar akan konteks globalisasi. Fenomena globalisasi dalam dunia mengusung semangat modernitas dan mengakibatkan berbagai perubahan mendasar di dalam kehidupan masyarakat termasuk dialami oleh warga Gereja Toraja. Dalam menghadapi arus globalisasi itu, Gereja Toraja harus bersikap positif, kritis, kreatif, dan realistis.

Masyarakat Toraja dikenal dengan identitas lokalnya yang kuat, salah satunya melalui rumah adat tongkonan. Rumah adat ini berfungsi sebagai pusat pembinaan karakter dan penanaman nilai-nilai. Penanaman nilai-nilai, filosofi, dan norma tidak dapat dipisahkan dari tongkonan. Dalam konteks ini, tongkonan berarti tempat berkumpul yang menjadi ruang edukasi, di mana setiap falsafah hidup yang diajarkan dapat diteruskan kepada generasi muda, terutama yang berkaitan dengan peraturan adat untuk menjalankan nilai-nilai kebenaran dan keadilan..

Dalam upaya untuk menjelaskan peranan Gereja Toraja dalam konteks globalisasi, maka sumbangan Jan Hendriks dalam Jemaat Vital dan Menarik, mengangkat metode lima faktor demi pertumbuhan jemaat yang vital dan menarik di era globalisasi, yakni: (1) Iklim, (2) Kepemimpinan, (3) Struktur, (4) Tujuan dan Tugas, serta (5) Identitas. Kelima faktor ini akan menolong Gereja Toraja semakin vital dan menarik dalam mengembangkan karya misinya di konteks globalisasi teknologi yang penuh tantangan. Gereja Toraja bukan hanya sebagai tongkonan melainkan juga sebagai kombongan kalua yang menghasilkan misi berupa dialog kritis dua arah, yaitu keterarahan pada konteks kemodernan berupa globalisasi sekaligus konteks kebudayaan lokal yang dihidupi masyarakat Toraja. Wujud akhirnya adalah teologi think globally act locally.THINK GLOBALLY ACT LOCALLY

Pembangunan Jemaat yang Vital dan Menarik di Konteks Gereja Toraja Menuju Cereja Publik Kontekstual

Gereja Toraja sebagai identitas keagamaan di tengah masyarakat Toraja sadar akan konteks globalisasi. Fenomena globalisasi dalam dunia mengusung semangat modernitas dan mengakibatkan berbagai perubahan mendasar di dalam kehidupan masyarakat termasuk dialami oleh warga Gereja Toraja. Dalam menghadapi arus globalisasi itu, Gereja Toraja harus bersikap positif, kritis, kreatif, dan realistis.

Masyarakat Toraja dikenal dengan identitas lokalnya yang kuat, salah satunya melalui rumah adat tongkonan. Rumah adat ini berfungsi sebagai pusat pembinaan karakter dan penanaman nilai-nilai. Penanaman nilai-nilai, filosofi, dan norma tidak dapat dipisahkan dari tongkonan. Dalam konteks ini, tongkonan berarti tempat berkumpul yang menjadi ruang edukasi, di mana setiap falsafah hidup yang diajarkan dapat diteruskan kepada generasi muda, terutama yang berkaitan dengan peraturan adat untuk menjalankan nilai-nilai kebenaran dan keadilan..

Dalam upaya untuk menjelaskan peranan Gereja Toraja dalam konteks globalisasi, maka sumbangan Jan Hendriks dalam Jemaat Vital dan Menarik, mengangkat metode lima faktor demi pertumbuhan jemaat yang vital dan menarik di era globalisasi, yakni: (1) Iklim, (2) Kepemimpinan, (3) Struktur, (4) Tujuan dan Tugas, serta (5) Identitas. Kelima faktor ini akan menolong Gereja Toraja semakin vital dan menarik dalam mengembangkan karya misinya di konteks globalisasi teknologi yang penuh tantangan. Gereja Toraja bukan hanya sebagai tongkonan melainkan juga sebagai kombongan kalua yang menghasilkan misi berupa dialog kritis dua arah, yaitu keterarahan pada konteks kemodernan berupa globalisasi sekaligus konteks kebudayaan lokal yang dihidupi masyarakat Toraja. Wujud akhirnya adalah teologi think globally act locally.</note>
<subject authority=""><topic>Indonesia</topic></subject>
<subject authority=""><topic>Teologi</topic></subject>
<classification>261.61</classification><identifier type="isbn">9786234154030</identifier><location>
<physicalLocation>Perpustakaan STTB Bandung Theological Seminary</physicalLocation>
<shelfLocator>261.21 Sim t</shelfLocator>
</location>
<slims:image>WhatsApp_Image_2026-04-27_at_16.26.58_%281%29.jpeg</slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier>99861</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-04-27 16:35:35</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-06-15 10:23:17</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>