Book's Detail
Nusantaria: Sejarah Asia Tenggara Maritim

Jauh sebelum bangsa-bangsa Barat datang ke Asia Tenggara dan melakukan kolonialisme di wilayah ini, kekuatan maritim Asia Tenggara mampu disandingkan dengan orang-orang Eropa. Bahkan, nenek moyang orang Asia Tenggara merupakan pelaut-pelaut terampil dan pemberani yang menjelajah seluruh lautan Asia hingga mencapai Afrika.

Inilah sedikit gambaran sejarah maritim Asia Tenggara yang ditulis oleh Philip Bowring dalam bukunya yang berjudul Nusantaria: Sejarah Asia Tenggara Maritim (KPG, 2022). Philip, jurnalis dan sejarawan yang fokus pada sejarah Asia Tenggara. Baginya, Asia Tenggara adalah kepulauan yang bangsa-bangsanya memiliki peranan penting dalam persimpangan maritim dan kebudayaan terbesar di dunia.

Pembahasan tentang sejarah maritim di Asia Tenggara telah lama berkembang di kalangan sejarawan, sebut saja Anthony Reid, M.C. Ricklefs, George Coedes, dan lainnya. Kondisi ini menandakan Asia Tenggara sejak dahulu telah menarik orang-orang Barat untuk mempelajarinya, berdagang, bahkan menguasainya.

Philip ingin memperlihatkan sejarah bangsa-bangsa Asia Tenggara khususnya di bidang maritim. Dalam karyanya, Philip memulai pembahasannya sejak periode pembentukan pulau-pulau Asia Tenggara di zaman es dan kedatangan nenek moyang orang Asia Tenggara, zaman kerajaan-kerajaan, kedatangan bangsa Barat, hingga pembentukan negara-negara yang merdeka.

Publikasi ini menunjukkan nenek moyang bangsa-bangsa Asia Tenggara tidak kalah dengan orang-orang Eropa. Sebelum orang Barat datang, teknologi maritim Asia Tenggara cukup ditakuti di dunia Barat. Philip menyelipkan harapan akan kebangkitan kembali budaya maritim Asia Tenggara.

Nusantaria

Asia Tenggara terdiri dari wilayah-wilayah yang berada di Benua Asia antara Tiongkok dan India dengan pulau-pulau di lepas pantainya antara Asia dan Australia. Orang Eropa pada masa kolonial, menyebut wilayah ini sebagai Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu. Namun istilah tersebut tidak membedakan antara kelompok pulau Indonesia dengan Filipina.

Pada abad ke-13 M wilayah ini juga disebut sebagai Nusantara oleh Kerajaan Majapahit yang berpusat di Pulau Jawa. “Nusa” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti pulau. Sehingga, Nusantara merujuk pada kawasan pulau-pulau dan pantai-pantai yang dikuasai oleh Majapahit. Istilah Nusantara kemudian dimaknai sebagai negara kepulauan oleh bangsa Indonesia.

Banyaknya istilah tentang Asia Tenggara mendorong Philip memunculkan istilah baru yakni “Nusantaria”. Istilah ini mengacu pada zona maritim yang lebih luas antara pintu masuk utara ke Selat Malaka dan Selat Luzon, dan Kepulauan Banda di ujung timur. Istilah Nusantaria tidak terbatas pada cakupan wilayah saja melainkan juga bangsa yang bersinggungan langsung dengan Asia Tenggara seperti orang Thai, Tionghoa, Tamil, dan lain sebagainya.

Penggunaan istilah Nusantaria juga seturut dengan istilah “Nusantao” yang dipakai oleh ahli arkeologi Asia Tenggara yang bernama Wilhem Solheim. Istilah Nusantao juga merujuk pada orang-orang yang berbahasa Austronesia dalam jaringan perdagangan kuno di berbagai pulau dan pantai zona Asia Tenggara.

Statement of Responsibility
Author(s) Bowring, Philip - Personal Name
Edition
Call Number 915.598 Bow n
ISBN/ISSN 9786024818012
Subject(s) Sejarah
Indonesia
Classification 915.598
Series Title
GMD Print
Language Indonesia
Publisher Grafika Mardi Yuana
Publishing Year 2022
Publishing Place Bogor
Collation xxx, iill. 400 p.; 22 cm
Specific Detail Info
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...