<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="99465">
<titleInfo>
<title>Putih :</title>
<subTitle>Warna kulit, ras, dan kecantikan di Indonesia tradisional</subTitle>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Laraswati, L. Ayu</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Tangerang</placeTerm></place>
<publisher>Marijin Kiri</publisher>
<dateIssued>2024</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Print</form>
<extent>xiv, ind. 254 p.; 21 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Di Indonesia, berkulit putih dipandang sebagai norma kecantikan. Obsesi memiliki kulit putih membuat produk pemutih kulit menduduki tempat teratas dalam penjualan industri kosmetik. Dari mana obsesi itu bermula, dan apa makna sosial-politik berkulit putih di Indonesia?

Bahkan jauh sebelum masuknya kolonialisme Barat, perempuan berkulit putih sudah dianggap sebagai ideal kecantikan, se­perti terlihat dari epos India Ramayana yang diadaptasi di Jawa pada akhir abad ke-9. Pada era kolonialisme Belanda, putih mulai mendapat muatan rasialnya ketika cantik putih diidentikkan dengan ras Kaukasia. Seiring masuknya Jepang ke Indo­nesia, disebarkanlah ideal ­cantik putih yang baru: putih Asia. Sementara pada era pascakolonial, ruang geografis Indonesia rupanya menjadi penanda penting untuk dilekatkan pada kategori putih yang kini nasionalistik , yakni “putih Indonesia”. Terakhir, pada era globalisasi kontemporer saat ini, kulit putih menjadi kualitas virtual yang lepas dari tubuh riilnya secara rasial maupun kebangsaan.

Buku ini bermaksud melacak peredaran citra-citra kecantikan lintas lokasi geografis dan babak kesejarahan yang berbeda-beda, dan menjelaskan bagaimana sirkulasi trans­nasional tersebut tu­rut melestarikan supremasi putih di aras global dan membentuk konstruksi ras, gender, dan warna kulit di Indonesia.</note>
<subject authority=""><topic>Rasis - warna kulit</topic></subject>
<subject authority=""><topic>Wanita</topic></subject>
<subject authority=""><topic>di Indonesia</topic></subject>
<classification>177.7</classification><identifier type="isbn">9789791260701</identifier><location>
<physicalLocation>Transformatio Library Bandung Theological Seminary</physicalLocation>
<shelfLocator>177.5 Sar p</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">02202500243</numerationAndChronology>
<sublocation>Non Fiction</sublocation>
<shelfLocator>177.5 Sar p</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:image>Putih.jpg</slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier>99465</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-01-31 16:47:34</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-02-14 14:19:16</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>