|
Daftar isi:
- Makna spiritual atau makna literal?
- Alternatif tafsiran non-kekerasan dalam praktik kehidupan Yesus
- Trinitas dalam pandangan Agustinus dari Hippo
- Teologi penciptaan dalam kitab Ayub 3:1-10
- Pekabaran injil dalam konteks multikultural
- Hubungan pembelajaran pendidikan agama Kristen dengan teknologi pendidikan
- Gereja sebagai ibu dan mempelai: Sebuah konstruksi imajinasi eklesiologis kaum injili melalui interpretasi teologis dan figural terhadap Maria Ibu Yesus
- Menuju pemuridan ayng efektif bagi mahasiswa sekolah tinggi teologi generasi Z
- "Takut akan Tuhan" sebagai dasar pertumbuhan spiritualitas remaja kristen
- Jabatan imam sebagai martabat tertinggi dalam injil Yohanes 21:15-19 dari sudut pandang John Chrystostom
- Implikasi pelbagai tafsir teologi kristen mengenai Covid-19 di Indonesia
- Integritas pemimpin berdasarkan Amsal 31:1-9
- Misi populer kongregasi pasionis sebagai bentuk katekese umat Katolik masa kini yang mengaktualisasikan gagasan eklesiologi konsili Vatikan II
- TInjauan teologis mengenai upacara 'Rambu Solo'
- Kota-kota perlindungan dalam kitab Yosua 20:1-9 dan Bilangan 35:9-34: Sebuah refleksi bagi penegakan hukum di Indonesia
- Anteseden dan kualifikasi kepemimpinan gereja masa kini berdasarkan Titus 1:5-16
- Meneropong "Christ-centeredness" dalam katekismus Heidelberg dari sudut pandang kerangka struktur
- Pengaruh Alkitab dalam pergerakan nasionalisme : Kasus Amir Syarifuddin
- Dari pollitik ke politiknya Allah : Memaknai politik pilpres 2024 di Indonesia dari perspektif 1 Samuel 8:4-9: 16:7, 11-13
- Memahami manusia sebagai mahkluk paradoksal dalam praktik pendidikan agama kristen
- Kisah para rasul 4:32-37 sebagai model diakonia integratif partisipatoris
- Kontekstualisasi menurut Kisah Para Rasul 17:16-34
|