<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="98530">
<titleInfo>
<title>Pemerdekaan :</title>
<subTitle>Pendidikan dan teologi Y.B.Mangunwijaya menghadapi revolusi industri 4.0</subTitle>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Ramapolii, Maria Carolina</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm></place>
<publisher>Penerbit Kanisius</publisher>
<dateIssued>2020</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition>Cet. 1</edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Print</form>
<extent>xvi, bib. 164 p.; 21 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Sedari kecil di saat memasuki dunia pendidikan formal, saya selalu ditanya “Cita-citamu apa?” Seingat saya, saya dan teman-teman lain tidak pernah menjawab, “Petani!” atau “Penjahit!”. Jawaban yang sering diterdengar, termasuk dari mulut saya, ialah “Dokter! ... Pengusaha! ... Pilot!”. Jika ada yang belum tahu cita-citanya apa, orang dewasa pun hampir selalu memberi nasihat jargonistik dengan “Jadilah orang sukses dan milikilah cita-cita setinggi langit”. Definisi dari “suskses” tersebut seakan-akan direbut dari dunia anak. Anak tidak memiliki kesempatan untuk menentukan “sukses” versinya sendiri, karena sukses berarti yang memiliki posisi dan gaji yang baik. Entah “suskses” yang telah diperjuangkan sejak bangku sekolah itu adalah benar “sukses” dan demi kepentingan dirinya atau demi siapa yang diuntungkan di balik itu semua. Buku ini berusaha bersikap kritis atas pendidikan di Indonesia. Pemikiran utama yang digunakan ialah konsep “Pendidikan Pemerdekaan” Y.B Mangunwijaya dan landasan teologi pembebasan. Selain itu, pembaca juga diajak untuk turut serta memikirkan pola pendidikan yang ada dalam rancangan kurikulum dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Buku ini pun tentunya ditulis dengan harapan besar agar pendidikan Indonesia tidak semakin memperlebar kesenjangan sosial, dan tidak menjadi seperti apa yang ditakutkan Romo Mangun, sebatas “memproduksi sekrup-sekrup pabrik”.</note>
<subject authority=""><topic>Pendidikan</topic></subject>
<subject authority=""><topic>Kekeristenan</topic></subject>
<subject authority=""><topic>Teologi</topic></subject>
<classification>268</classification><identifier type="isbn">9789792164978</identifier><location>
<physicalLocation>Transformatio Library Bandung Theological Seminary</physicalLocation>
<shelfLocator>268 Ram p</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">04202300121</numerationAndChronology>
<sublocation>Non Fiction</sublocation>
<shelfLocator>268 Ram p</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>98530</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-04-14 15:10:11</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-04-28 14:25:38</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>