Book's Detail
Pendidikan ala warung pojok

Dr. Soedjatmoko melihat Drijarkara sebagai seorang pemikir yang tajam berdisiplin ilmiah. "Beliau bukan pembawa suatu sistem filsafat baru. Memang bukan itu yang diusahakannya. Yang disajikannya dan senantiasa ditekankannya ialah suatu suatu cara berpikir, suatu metode berfilsafat sebagai suatu keaktivan manusia yang hakiki, yang tidak pernah selesai. "Baginya filsafat adalah usaha menyelami realitas (alam, manusia dan Tuhan, sebagai dasar dari segala-galanya) seperti tertangkap dalam moment metafisik pengertian kita, yaitu sebagai realitas yang tertangkap sebagai pengada (being)'. 'Filsafat memperkembangkan moment metafisik itu sebagai ilmu'...Bahkan lantaran sifal cara berfilsafatnya itu, beliau dengan segala kesungguhan hati dan kadangkala naivitasnya yang mengharukan telah dibawa langsung ke tengah-tengah pergolakan dan perjuangan bangsa dan di dalam usaha bangsa kita untuk menyelami dirinya dan mendudukkan diri sebagai bangsa di dalam dunia dan sejarah..."

Nama Nala dalam dunia pewayangan sering digunakan untuk menyebut anak-anak Semar, para angota dari Punawakan: Nala Gareng, Nala Petruk dan Nala Bagong. Mereka adalah pelayan, penjaga, sekaligus penasihat para ksatria Pandawa. Sedangkan nala artinya arti harafiahnya adalah hati, yang bertugas untuk memberi perhatian pada berbagai hal, serta melayani kebutuhan orang yang dilayaninya. Bahkan Pak Nala yang juga punya tugas untuk untuk mengigatkan orang yang dilayaninya. Itulah yang dilakukan Pak Nala dalam Warung Pokok.

Statement of Responsibility
Author(s) Subanar, G. Budi - Personal Name
Edition Cet. 1
Call Number 808.84 Sub p
ISBN/ISSN 9798927974
Subject(s) Fiksi
Esai
Classification 808.84
Series Title
GMD Print
Language Indonesia
Publisher Penerbitan Universitas Sanata Dharma
Publishing Year 2006
Publishing Place Yogyakarta
Collation lxix, ill. 193 p.; 21 cm
Specific Detail Info
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...