<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="96443">
<titleInfo>
<title>Mengoyak jubah mencukur kepala:</title>
<subTitle>Menimbang ulang kontektualisasi teologi pandemi</subTitle>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Hantoro, Wahyu Dwi</namePart>
<role><roleTerm type="text">Director</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">New Jersey</placeTerm></place>
<publisher>BPK Gunung Mulia</publisher>
<dateIssued>2022</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition>Cet. 1</edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Print</form>
<extent>xx, ill. : 399 p.; 23 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Sejak muncul tahun 2019, pandemi covid-19 telah melanda dunia. Di beberapa negara, pandemi ini menjadi fenomena yang sangat mengerikan, diantaranya di Brasil dan India, yang merupakan negara dengan kasus paparan covid-19 paling banyak di dunia. Dampak pandemi terasa dalam berbagai bidang kehidupan dan membuat kita harus beradaptasi dengan tatanan hidup baru yang serba online, entah pertemuan, pembelajaran, bahkan ibadah.

Pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimana para teolog, gereja-gereja, dan sekolah-sekolah teologi telah dan akan merespons pandemi covid-19 dengan segala dampaknya itu? apakah respons yang dilakukan selama ini sudah cukup dan secara teologis relevan pada konteks masing-masing? Adakah cara-cara baru yang dapat dikembangkan untk merespons pandemi pada masa depan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, tiga lembaga leading partner teologi kontekstual mission 21, yaitu PERUATI, PERSETIA, dan BPK Gunung Muliamenggelar seminar dan lokakarya (semiloka) bertema &#34;Berteologi di Tengah Pandemi&#34;. Semiloka yang bertujuan agar peserta mendapatkan input dari berbagai perspektif terkait refleksi teologis atas pandemi covid-19 dari perspektif teolog global, teolog Asia, teolog Indonesia, gereja, sekolah teolog, organisasi perempuan, penulis, dan penelioti kristen.

Peserta juga dilibatkan dengan diminta membuat tulisan refleksi pribadi atas pandemi covid-19 (sebelum semiloka) dan turut andil dalam diskusi kelompok pada sesi terakhir. Berbagai masukan yang terkumpul diharapkan dapat memperkaya pengalaman dan refleksi sehingga peserta dan pembaca buku ini dapat terus melakukan refleksi sehingga peserta dan pembaca buku ini dapat terus melakukan refleksi teologis yang relevan sesuai dengan konteks masing-masing, serta menemukan tambahan wawasan ataupun pandangan baru tentang bagaimana merespons situasi pandemi-pandemi apapun.</note>
<subject authority=""><topic>Teologi kontekstual</topic></subject>
<subject authority=""><topic>Teologi pandemi</topic></subject>
<subject authority=""><topic>Prosiding</topic></subject>
<classification>230</classification><identifier type="isbn">9786239297855</identifier><location>
<physicalLocation>Transformatio Library Bandung Theological Seminary</physicalLocation>
<shelfLocator>230 Han m</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">08202100495</numerationAndChronology>
<sublocation>Non Fiction</sublocation>
<shelfLocator>230 Han m</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>96443</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-01-04 14:58:40</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-01-04 15:26:20</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>