<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="94221">
<titleInfo>
<title>Mewarga dengan hati</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Hattu, Justitia Vox Dei</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm></place>
<publisher>BPK Gunung Mulia</publisher>
<dateIssued>2018</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition>Cet. 1</edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Print</form>
<extent>viii, ill. : 74 p. ; 21 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Pendidikan kewarganegaraan dalam konteks Indonesia masa kini enjadi kebutuhan yang tidak terelakkan. Oleh sebab itu, pendidikan kristiani yang dilakukan oleh gereja harus menunjukkan wajah publiknya melalui pendidikan kewarganegaraan bagi warganya.

Mewarga dengan hati mengambil pendekatan transformatif sebagai sebuah model pembelajaran yang khas bagi orang dewasa, dengan memberikan fokus pada dimensi estetika dan seni sebagai wujudnya. Model pendekatan ini diambil karena pendidikan yang berfokus pada dimensi kognitif sajalah tidaklah cukup untuk menolong orang dewasa memahami apa yang dipelajarinya. Jika pendidikan yang kita harapkan dapat menolong orang dewasa menempatkan imannya pada situasi konkrit, maka model pendidikan yang kita usung harus yang memberdayakan, bukan mengekang apalagi memiskinkan orang dewasa. Oleh karena itu, model pembelajaran ini dinilai sangat memadai untuk memfasilitasi dan mendasarkan pendidikan kristiani untuk formasi indentitas kewarganegaraan bagi orang dewasa dalam konteks gereja. Lalu mengapa harus dengan hati? Karena dengan hati, orang dewasa ditolong untuk melampaui pertimbangan-pertimbangan kognitif atau emosional semata; dengan hati orang dewasa menghayati panggilan mulianya sebagai warga negara.</note>
<subject authority=""><topic>Pendidikan - Kristiani</topic></subject>
<classification>207</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>Transformatio Library Bandung Theological Seminary</physicalLocation>
<shelfLocator>207 Hat m</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">09201903173</numerationAndChronology>
<sublocation>Non Fiction</sublocation>
<shelfLocator>207 Hat m-2</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:image>Mewarga_dengan_hati.jpg</slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier>94221</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-02-07 14:52:18</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-09-09 16:00:36</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>