<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="91447">
<titleInfo>
<title>Kalo Tuhan tahu, ngapain kita minta?</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Raprap, L. Z.</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm></place>
<publisher>BPK Gunung Mulia</publisher>
<dateIssued>2017</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition>Cet. 8</edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Print</form>
<extent>x, 128 p. ; 21 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Kalau ibu lagi enggak punya duit, saudara berdoa memintanya dari Tuhan. Sebelum saudara minta Tuhan sudah tahu saudara lagi bokek. Iya enggak? Kalau kita sakit, sebelum kita minta, Tuhan sudah tahu kita sakit, kan? Tetapi mengapa kita meminta, karena toh Dia sudah tahu? Saya seringkali mendengar orang berdoa begini : Banyak lagi yang kami mau minta, ya Tuhan, tetapi Engkau sudah tahu. Lho, ngapain minta kalau gitu, kan? Kalau seperti itu sih, mending ngucapin doa yang lebih efisien, misalnya : Tuhan, Engkau sudah tahu, Amin.

Mengapa kita masih meminta kepada Tuhan, jika Dia Mahatahu? Ketika Pendeta Raprap mengajukan pertanyaan itu, ia tidak sedang mengajukan masalah teologi atau filsafat yang rumit. Dengan pertanyaan ini, dan berbagai khotbah lain dalam buku ini, ia berbagi mutiara iman yang menjadi inti kehidupan orang Kristen.

Melanjutkan buku sebelumnya, di dalam kumpulan khotbah ini, Pendeta Raprap mengajak pembaca menikmati kedalaman sentuhan Firman Tuhan. Khotbah di dalam buku ini lugas karena tidak menggunakan bahasa yang berbunga-bunga atau bahasa tinggi. Khotbah dalam buku ini juga kritis karena sering mengajak pembaca mempertanyakan asumsi yang keliru. Khotbah tersebut juga tepat sasaran karena langsung menyapa problem kehidupan dan iman pendengar. Dan, tentu saja, khotbah Pendeta Raprap juga jenaka karena memang sudah dari sononya begitu. Di tengah berbagai kepenatan dan problem yang mengimpit kehidupan keseharian kita, khotbah-khotbah pendeta Raprap terasa segar dan menguatkan.</note>
<subject authority=""><topic>Khotbah (kristen)</topic></subject>
<classification>252</classification><identifier type="isbn">9789796876334</identifier><location>
<physicalLocation>Transformatio Library Bandung Theological Seminary</physicalLocation>
<shelfLocator>252 Rap k</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">08201800756</numerationAndChronology>
<sublocation>Non Fiction</sublocation>
<shelfLocator>252 Rap k</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:image>Kalo_Tuhan_tahu%2C_ngapain_kita_minta.jpg</slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier>91447</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2018-10-24 14:51:32</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-10-24 14:58:13</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>