<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="91416">
<titleInfo>
<title>Tidak ada ghetto:</title>
<subTitle>Gereja di dalam dunia</subTitle>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Yewangoe, Andreas A.</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm></place>
<publisher>BPK Gunung Mulia</publisher>
<dateIssued>2015</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition>Cet. 3</edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Print</form>
<extent>xvi, 266 p. ; 21 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>TIDAK ADA GHETTO

Ika tidak ada &#34;penumpang gelap dan tidak ada negara agama, tentu masuk akal pula jika di Indonesia tidak ada ghetto agama, yaitu &#34;pemisahan&#34; berdasarkan agama. Dengan demikian, tidak ada ghetto Kristen, entah itu yang diciptakan oleh orang lain maupun oleh orang Kristen sendiri.

Namun, jika orang Kristen tidak mau dimasukkan oleh orang lain ke dalam ghetto khusus. mengapa orang Kristen sendiri yang justru mencoba menciptakan ghetto bagi diri mereka sendiri? Penulis sengaja memakai judul ini untuk mengacu pada kecenderungan gereja yang kadang-kadang lebih senang menarik diri ke dalam dengan alasan keamanan-ketimbang terjun ke dalam dunia nyata. Ketidakmampuan gereja menghadapi dunia nyata membuat ia merasa lebih senang berada di dalam ghetto

Semua tulisan dalam buku ini mempunyai pokok utama kalau gereja sungguh-sungguh hendak menjadi Gereja Yesus Kristus yang peduli pada dunia, tidaklah pantas la masuk ke dalam ghetto, Sebaliknya, ia harus berada di tengah-tengah dunia apa pun risikonya. menyatakan diri sebagai bagian dari dunia, kendati tidak berasal dari dunia. Bersama dengan dua buku pertama sebelumnya, buku terakhir dari &#34;Trilogi Pemikiran AA Yewangor ini sangat bermanfaat bagi siapa saja yang hendak mencari pemikiran mutakhir mengenai masalah masalah kontemporer terkait gereja, masyarakat, dan negara.</note>
<subject authority=""><topic>Hubungan antar agama - kristen dan islam</topic></subject>
<subject authority=""><topic>Perubahan sosial dan politik - Indonesia</topic></subject>
<classification>261</classification><identifier type="isbn">9789796876877</identifier><location>
<physicalLocation>Transformatio Library Bandung Theological Seminary</physicalLocation>
<shelfLocator>261 Yew t</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">08201800744</numerationAndChronology>
<sublocation>Non Fiction</sublocation>
<shelfLocator>261 Yew t</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:image>Tidak_ada_ghetto.jpg</slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier>91416</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2018-10-17 11:40:19</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-01-31 08:38:21</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>