Book's Detail
Tidak ada negara agama: Satu nusa, satu bangsa

Buku ini adalah buku kedua dari buku trilogi pemikiran A. A. Yewangoe.
Melanjutkan bukunya yang pertama, ia mengupas berbagai persoalan sensitif yang muncul akibat euforia reformasi dan otonomi daerah, seperti antara lain: keberadaan partai-partai berbasis agama (termasuk partai Kristen), terjunnya para pendeta ke dalam kancah politik praktis sebagai calon anggota legistlatif partai tertentu, dan perda-perda bernuansa syariat keagamaan.
Dengan gaya yang kritis dan tajam, ia menyoroti permasalahan itu sambil
berdialog secara kritis dengan para penulis Kitab Suci dan para pemikir masa lalu seperti Agustinus, Calvin, Luther, dan Karl Barth. Di samping kaya akan perspektif, buku ini juga mengundang warga gereja menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

TIDAK ADA NEGARA AGAMA

Indonesia bukan negara agama, bukan juga negara sekuler," demikian sering kita dengar slogan yang diucapkan entah di ruang kuliah, media massa, dan di mana-mana. Slogan yang kabur itu hendak mengungkapkan bahwa di negeri Pancasila ini, relasi agama dan negara tidaklah terputus sama sekali, tetapi juga tidak tercampur aduk

Benarkah demikian? Dalam praktiknya, negara dapat memperalat agama dan sebaliknya agama pun dapat memperalat negara. Pembubaran paksa terhadap kelompok aliran tertentu yang pandangannya berbeda dengan pandangan mainstream adalah salah satu contoh mutakhir bahwa agama pun dapat meminjam kekuasaan negara untuk menyingkirkan kelompok yang tidak sepandangan.

Buku ini adalah buku kedua dari "Buku Trilogi Pemikiran A. A. Yewangoe Melanjutkan bukunya yang pertama, ia mengupas berbagai persoalan sensitif yang muncul akibat euforia reformasi dan otonomi daerah, seperti antara lain: keberadaan partai-partai berbasis agama (termasuk partai Kristen), terjunnya para pendeta ke dalam kancah politik praktis sebagai calon anggota legislatif partai tertentu, dan perda-perda bernuansa syariat keagamaan. Dengan gaya yang kritis dan tajam, ia menyoroti permasalahan itu sambil berdialog secara kritis dengan para penulis Kitab Suci dan para pemikir masa lalu seperti Agustinus. Calvin, Luther, dan Karl Barth. Di samping kaya akan perspektif, buku ini juga mengundang warga gereja menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Pat Dr Andreas Ananggun Yewangue, the Marboru Sunba, Nusa Tenggara Timur. 31 Mast 1945 Persita Gereja Kosten Sumba (KS) dan STT Jakarta tahun 1969 la merah Doctor Theologian, te hun 1987, Viga sveta Krsten Arta Wacana, Kipeng, pada sahun 1000-1900 Sehersalah seorang Ketua PG pada Sidang Reys Aryspurs (1904) dan Sadang Raya Palangia Raya (2000), a pun menubestaatua Umum PGI (2004-2008 Karya tanya antara tan Agama dan Krutura (2001). Iman Ameryka Negara Panc 2002), Theutig Oudis A Pandangan Asantang Penderaan (1987) (13) Cive Doobedienc 0000) Civil Society & Tengah Agama-agama (2000), Finan Hop 24 (1981), Fiman Hie 39(1900

Statement of Responsibility
Author(s) Yewangoe, Andreas A. - Personal Name
Edition Cet. 3
Call Number 261 Yew t
ISBN/ISSN 9789796876860
Subject(s) Teologi sosial
Perubahan sosial dan politik - Indonesia
Hubungan antar agama - kristen dan islam
Classification 261
Series Title
GMD Print
Language Indonesia
Publisher BPK Gunung Mulia
Publishing Year 2015
Publishing Place Jakarta
Collation xiv, 282 p. ; 21 cm
Specific Detail Info
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...