<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="91252">
<titleInfo>
<title>Emeritus:</title>
<subTitle>Memoar seorang pendeta</subTitle>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Siregar, Ita</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm></place>
<publisher>BPK Gunung Mulia</publisher>
<dateIssued>2011</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition>Cet. 1</edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Print</form>
<extent>316 p. ; 18 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Februari 2001. Gereja melepas saya dengan status emeritus, artinya pendeta yang tidak lagi aktif dalam struktur gereja. Mereka membuat semacam perpisahan dalam satu ibadah yang dihadiri mungkin lebih dari sepuluh ribu jemaat di Gelora Bung Karno, Senayan. Di atas mimbar kembali saya mengulang alasan pengunduran diri. Saya tidak bisa menggambarkan peristiwa itu. Memandang ratusan pasang mata dari atas mimbar, sejuta rasanya. Kecewa dan marah, tanya-tanya tanpa jawaban, semua berkelindan. Dan saya akan meninggalkan suasana seperti ini, mungkin selamanya. Separuh jiwa saya akan tertinggal disini, bersama mereka, bersama harapan-harapan saya, cerita-cerita yang belum dirampungkan.

Pendeta juga manusia. Bila manusia memiliki sisi gelap, bukankah juga pendeta? 

Dari masa purba sejarah manusia mencatat bahkan nabi pernah melewati masa kelam, paling memalukan dalam hidupnya. Perebutan kekuasaan berdarah, pengungkapan homoseksual tersembunyi di balik dinding kusam gereja, praktek pelecehan seksual yang keji, pemlintiran kebohongan atas dasar agama dan ketuhanan, semua pernah dilaporkan. Demi berbagai kepentingan, banyak cerita yang sebelumnya sunyi menjadi kekal dicatat dalam sebuah buku.

Bukan untuk alasan itu buku ini ditulis. Bukan mencari pembenaran dalam rangka mendapat dukungan. Semua peristiwa dalam buku ini adalah sejarah yang tidak bisa berubah. Ia akan tetap ada di sana, ditulis atau tidak ditulis. Di masa-masa sunyi itulah sang tokoh menemukan sisi lain kehidupan. Di jalan keras penuh nista, ia mengalami perjumpaan kembali dengan Tuhan, menjadi matang, terukur, dan penuh kepercayaan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan sendirian bahkan ketika ia jatuh dan berdosa.

Betapa pun buruknya peristiwa yang terjadi pada seseorang, akan menjadi pelajaran berharga, yang setelah itu sepenuhnya terletak di tangan Anda, sidang pembaca.</note>
<subject authority=""><topic>Literasi Indonesia - Novel</topic></subject>
<subject authority=""><topic>Siregar, Ita</topic></subject>
<classification>899.2232</classification><identifier type="isbn">9789796879533</identifier><location>
<physicalLocation>Transformatio Library Bandung Theological Seminary</physicalLocation>
<shelfLocator>899.2232 Sir e</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">08201800629</numerationAndChronology>
<sublocation>Non Fiction</sublocation>
<shelfLocator>899.22132 Sir e</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:image>emeritus.jpg</slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier>91252</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2018-09-24 10:37:38</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-09-24 10:38:51</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>