|
Dalam buku ini, Teologi-Teologi Kontemporer dipahami secara netral, yakni teologi-teologi yang muncul di sepanjang abad ke-20 (terutama setelah Perang Dunia I) hingga awal abad ke-21 ini (bnd. Joas Adiprasetya, Pengantar Kuliah Perkembangan Teologi Kontemporer, 2015).
Tanpa menafikan pentingnya ajaran gereja, dan tanpa mengurangi sikap hormat kita terhadapnya, sejak awal perlu kita insyafi (bahkan kalau boleh: kita sepakati) bahwa teologi tidak sama dengan doktrin, dogma atau ajaran gereja, sehingga proses belajar-mengajar teologi tidak sama dengan indoktrinasi. Hal ini perlu dikemukakan sejak awal, karena di negeri kita ini proses belajar-mengajar teologi di sejumlah sekolah teologi, terutama yang diselenggarakan gereja yang bercorak konfesional-denominasional, lebih bercorak indoktrinasi. Di satu sisi gereja memang bisa menghasilkan doktrin atau teologi tertentu, tetapi di sisi lain, teologi bisa dan perlu mendorong gereja merumuskan atau membarui ajarannya, bahkan teologi dapat mengoreksi ajaran gereja. Justru karena itulah teologi perlu terus-menerus dikembangkan dan dipelajari.
.
Sudah sejak abad-abad pertama gereja Kristen memperlihatkan kepelbagaian, bahkan juga perbedaan pandangan dan cara mengungkapkan imannya. Tidak heran bila teologi sudah beraneka-ragam, bahkan tak jarang berbenturan satu sama lain. Sebagai forum keilmuan, dan dalam rangka memperbincangkan teologi sebagai salah satu disiplin ilmu, kita tidak perlu mempersalahkan atau menyesalkan perbedaan dan perbenturan itu. Itu justru memperlihatkan kekayaan teologi. Kita juga tak perlu menilai bahwa teologi yang satu lebih baik atau lebih benar, sedangkan teologi yang lain lebih buruk atau keliru.
|