<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="91163">
<titleInfo>
<title>Hidup dari pengharapan</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Yewangoe, Andreas A.</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm></place>
<publisher>BPK Gunung Mulia</publisher>
<dateIssued>2017</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition>Cet. 1</edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Print</form>
<extent>x, 298 p. ; 21 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>“Pengharapan” adalah sebuah kata pendek dan mungkin cukup akrab ditelinga kita dank arena itu tidak lagi diberi perhatian khusus. Kendati demikian, kata ini sangat dalam maknanya. Bhkan tidak berlebihan apabila dikatakan, tanpa pengharapan seseorang tidak mampu melanjutkan kehidupannya. Hal Lindsey pernah mengatakan , “ manusia dapat hidup 40 hari tanpa makan, sekitar 3 hari tanpa air sekitar 8 menit tanpa udara. Namun, hanya 1 detik tanpa harapan.”

Apa “pengharapan” itu sebenarnya? Kumpulan tulisan dalam buku ini muncul dalam rentang waktu antara tahun 2012-2015. Penulis, yang menulisnya baik sebagai ketua umu PGI maupun sebagai pendeta yang pernah (dan terus) beljar theologi, yakin bahwa tulisan-tulisan dalam buku ini merupakan refleksi dari pertanggungjawabannya atas tema itu. 

Terbagi dalam 25 tulisan, pemikiran penulis yang bernas dan tajam menjelajahi berbagai tema yang muncul dalam beberapa tahun belakangan ini. Dengan sengaja ia mendapatkan di awal tulisan-tulisannya, topic berjudul “ Peta KONTEKS Berteologi di Indonesia” untuk menakar dan sekaligus memahami dimanakah sesungguhnya kita berada sekarang dalam keriuhrendahan berteologi di negeri kita. Tercerminkah kesadaran sosial dan lingkungan di dalam kegiatan-kegiatan teologi kita itu, atau mala kita cenderung menarik diri kembali ke dalam ghetto dan/ atau bahkan membenarkan (menjustifikasi) sikap-sikap kita yang konsumeristis dan cinta uang?</note>
<subject authority=""><topic>Hubungan antar agama</topic></subject>
<subject authority=""><topic>Perubahan sosial dan politik - Indonesia</topic></subject>
<classification>261</classification><identifier type="isbn">9786022313779</identifier><location>
<physicalLocation>Perpustakaan STTB Bandung Theological Seminary</physicalLocation>
<shelfLocator>261 Yew h</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">08201800554</numerationAndChronology>
<sublocation>Non Fiction</sublocation>
<shelfLocator>261 Yew h</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:image>Hidup_dari_pengharapan.jpg</slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier>91163</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2018-09-10 14:26:12</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-09-10 14:31:39</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>