|
Judul Setengah Isi Setengah Kosong sendiri diambil dari salah satu kisah dari 63 anekdot dalam buku tersebut yang merupakan kisah ke-26. Adalah seorang pemuda yang bekerja pada departemen penjualan sebuah perusahaan ditugaskan pemimpinnya memantau daerah tempat suku pedalaman berdiam. Perusahaannya adalah produsen pakaian dalam untuk wanita. Sesampai di sana, sang pemuda langsung patah harapan melihat hampir seluruh wanita suku pedalaman tersebut (maaf) hanya mengenakan penutup badan seadaanya. Boro-boro pakaian dalam, pakaian luar pun mereka kadang enggan memakainya. Sang pemuda dengan lunglai pulang dan melapor ke kantor pusatnya bahwa tidak ada peluang di daerah tersebut.
Sang pemimpin tidak percaya, lalu ia pun mengirimkan pemuda kedua. Sama dengan apa yang dilihat oleh pemuda sales pertama, pemuda kedua juga terperangah. Namun, secepat kemudian matanya berbinar melihat peluang. Ia segera menelepon kantor pusat untuk memintar perlunya segera dilakukan ekspansi. Kampanye pentingnya pakaian dalam untuk kesehatan dan juga membuat suku tersebut lebih beradab patut dijalankan.
Itulah dua orang yang berbeda dari latar belakang perusahaan yang sama, tetapi memiliki cara pandang yang berbeda pula. Pemuda yang satu berpandangan pesimistis dan satunya lagi optimistis. Respons yang mereka berikan memang berbeda ketika melihat langsung situasi.
Sebuah keputusan, sebuah ujian, ataupun sebuah musibah kadang membuat orang pada posisi “telah habis semua harapan”. Titik kecil nyala “api asa” pun sudah tidak terlihat lagi karena pandangan memang sudah kosong. Alih-alih melihat gelas yang terisi setengahnya dengan air, kita kadang dalam posisi terjepit melihatnya sebagai gelas yang setengahnya kosong. Cara pandang kita memang menurut para ahli berhubungan dengan input yang masuk ke dalam benak kita setiap harinya.
***
Luar biasa, buku Setengah Isi Setengah Kosong (SISKO) ini diapresiasi begitu banyak pembaca di Indonesia, bahkan mereka yang berada di Malaysia dan belahan dunia lainnya. Tidak heran, buku ini mengantarkan prestasi sebagai national best seller dengan cetak ulang lebih dari 36 kali dan terjual lebih dari 80.000 eksemplar sejak 2005.
Kini, delapan tahun kemudian pada 2013, buku ini kembali diterbitkan TrimKom Publishing House yang juga saya bidani kelahirannya sebagai penerbit yang memiliki tagline “bertumbuh bersama buku”. Kami ingin kembali menghidupkan semangat SISKO sebagai buku yang memang pas untuk masyarakat Indonesia dan anekdot-anekdot di dalamnya tetap up-to-date sebagai bahan renungan bersama.
|