Book's Detail
Bertuhan tanpa agama

Pada masa Renaissance (pencerahan) dan setelahnya, mulai banyak bermunculan pemikiran-pemikiran skeptis terhadap agama yang sebelumnya dirasakan sangat membelenggu kehidupan manusia. Bertrand Russell termasuk ke dalam kelompok pemikir bebas yang terus menulis masalah agama. Agama adalah salah satu pokok masalah dari tulisan-tulisan awal dalam buku rahasia harian yang mulai disimpan ketika ia berusia 17 tahun. Sepanjang hidupnya, Russell mendekati agama sebagai seorang filosof, sejarawan, kritikus sosial, dan individu. Russell mengemukakan penentangannya terhadap agama dalam debat publik dengan para tokoh agama terkemuka dan merasa senang membuat sindiran-sindiran anti-agama, seperti jawabannya, ketika ia dibawa ke hadapan Tahta Langit (Tuhan), ia akan menegur Penciptanya karena tidak menyediakan cukup bukti akan eksistensi-Nya.


Russell adalah seorang yang agnostik saat menuangkan pemikirannya ke dalam setiap tulisan hariannya. Agnostik adalah orang yang berpikir bahwa mungkin mengetahui kebenaran dalam masalah-masalah seperti Tuhan dan kehidupan akhirat, masalah yang menjadi perhatian setiap agama. Apakah agnostik itu ateis? Tidak. Agnostik berbeda dengan ateis, dan berbeda pula dengan orang yang beragama. Ateis dapat mengetahui bahwa Tuhan itu tidak ada. Agama dapat mengetahui bahwa Tuhan itu ada. Sedangkan agnostik adalah menunda keputusan. Mengatakan bahwa tidak ada dasar yang mencukupi untuk menerima atau menolak. Agnostik tidak menerima “otoritas” seperti hukum Tuhan dimana orang beragama menerimanya. Tentu saja ia akan berusaha mengambil pelajaran dari kebijaksanaan orang lain, tetapi ia akan memilih untuk dirinya sebagai orang-orang yang ia anggap bijak. Konsep kebaikan dan kejahatan tidak didasarkan pada perintah Tuhan, Nabi, atau motivasi hari akhir. Tidak juga pada hati nurani. Melainkan pada empati. Konsep empati ia terapkan untuk mendorong orang-orang yang putus asa tidak dengan dalil-dalil, melainkan dengan sebuah logika sederhana: “Saya akan mendorong orang yang putus asa dengan menunjukkan sesuatu yang bisa ia capai. Pada diri kita terdapat sesuatu yang bisa dilakukan, dan kita akan menjadi lebih baik dengan melakukannya. Tidak perlu melibatkan agama. Selalu ada banyak hal yang perlu Anda kerjakan. Misalkan ia berupa kebaikan Anda sendiri. Anda makan pagi tetapi Anda tidak peduli pada agama. Jika Anda peduli pada orang lain Anda akan membutuhkan sangat sedikit agama untuk menyediakan mereka makan pagi. Selalu ada sesuatu yang bisa Anda lakukan untuk orang lain, dan saya memasukkan Anda di dalamnya. Anda tidak memerlukan agama untuk mengetahui hal ini, Anda hanya membutuhkan tindakan rasional atas apa yang mungkin” (halaman 120).

Apakah agnostik berpikir bahwa sains dan agama tidak mungkin berdamai? Jawabannya tergantung pada apa yang dimaksud dengan agama. Jika agama berarti semata-mata sistem etika, ia bisa didamaikan dengan sains. Jika agama berarti sistem dogma, dianggap sebagai benar dan tidak bisa dipertanyakan, ia tidak kompatibel dengan semangat sains, yang tidak menerima fakta tanpa bukti, dan juga berpegang bahwa kepastian seratus persen hampir tidak pernah bisa dicapai.

Statement of Responsibility
Author(s) Russell, Bertrand - Personal Name
Edition
Call Number 211.8 Rus b
ISBN/ISSN 9793723580
Subject(s)
Classification 211.8
Series Title
GMD Print
Language Indonesia
Publisher Resist Book
Publishing Year 2008
Publishing Place Resist Book
Collation
Specific Detail Info
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...