|
Perjalanan panjang hidup seseorang bisa diibaratkan sebagai repertoar dalam suatu pertunjukan opera. Satu lagu habis dimainkan, datang lagi yang lain. Terkadang lirih seperti embusan angin, terkadang meledak dan keras bak deburan ombak di tepi pantai. Namun, berbeda dengan repertoar opera, hidup seseorang bukanlah untaian lagu yang datang silih berganti dan lewat begitu saja, seolah-olah tak bermakna.
Buku ini merupakan persembahan dari rekan dan orang-orang yang pernah dekat atau terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan Dr. Harun Hadiwijono dalam kehidupannya, entah di lingkungan Gereja Kristen Jawa, Universitas Kristen Duta Wacana, atau di tempat lain. Ibarat dalam gedung opera, mereka bukan hanya pendengar atau penonton, melainkan juga para saksi yang terkesan oleh guratan-guratan makna lagu kehidupan Dr. Harun.
Dengan menghadirkan buku ini di tengah kancah pergulatan teologis kontekstual, mereka merekam dan memperdengarkan kembali untaian lagu kehidupan yang terdengar indah itu. Buku yang terdiri dari tiga bagian ini, lebih daripada sekadar meninjau jauh ke belakang - seperti tampak pada salah satu bagiannya yang menganyam kembali perjalanan hidup Dr. Harun - juga memandang dan membuka visi ke depan. Seperti yang disarankan oleh judulnya, buku ini mengumpulkan butir-butir pemikiran Dr Harun yang menyebar ke segala arah dan mengomentari serta menimbangnya sebagai batu-batu sendi yang di atasnya dapat dibangun kerangka pemikiran teologis.
Jelaslah, bahwa lagu-lagu yang pernah ditembangkan oleh Dr. Harun tidak habis sekali dimainkan, namun alunan indah nada-nadanya masih membekas di hati para pengagum dan penerusnya. Dan itulah yang mereka coba mainkan kembali: mengembangkan benih-benih mazhab teologi yang sudah ditabur oleh Dr. Harun Hadiwijono.
|