|
O. E. Ch Wuwungan
BINA WARGA
Bunga Rampai Pembinaan Warga Gereja
Buku ini berisikan bahan-bahan yang membahas pokok-pokok khusus tentang pembinaan warga gereja. Tujuannya adalah membina kesadaran, pemahaman dan penghayatan warga gereja berdasarkan Firman Tuhan dalam Alkitab tentang hakikat gereja sepanjang masa, yakni melayani. Dengan ini diharapkan warga gereja tergerak untuk berpartisipasi secara aktif dalam kesaksian dan pelayanan gereja sesuai dengan keber-adaan masing-masing Mereka juga dipersiapkan untuk tangguh dalam menghadapi segala tantangan zaman.
Рот. О.Е.CH. WUWUNGAN, D. The Lahir 28 Juni 1934 di Jakarta Pendidikan 5-1 Teologi diperoleh pada STT Jakarta (1961); $-2 dari Rijks Universiteit Utrecht (77) 5-3 dan STT Jakarta (1983) Menjadi Pendeta Jemaal (1962-1975 dan 1980-1963); penerjemah Alkitab d LAI (1961-1975): Litrang Majlis Sinode GPIB (1083-1980), dan in menjabat Ketua Sele GPIB Punatulisan utamanya antara lain Authority and Farvetation American BSc (1974): Maa Nab Pahu STT (1983), Sejarah Terjemaher ALAT (103 dan pelbagai artikel yang diingat di beberapa media cetak.
TIDAK ADA PENUMPANG GELAF
B enarkah ada penumpang gelap di kereta "Indonesia"? Apakah orang Kristen menjadi penumpang gelap di dalam kereta ini? Apakah ada penumpang kelas satu dan kelas dua berdasarkan agama di kereta "Indonesia"? Buku ini menjawab dengan tegas: tidak ada penumpang gelap dalam kereta "Indonesia". Semua penumpang berhak ikut, karena semua ikut merancangnya demi tujuan bersama: mengisi kemerdekaan Indonesia, menuju masyarakat adil dan sejahtera.
Buku ini merupakan buku pertama dari "Buku Trilogi Pemikiran A. A. Yewangoe Di dalamnya, penulis banyak mengupas bagaimana kita memaknai kemajemukan, terutama isu mengenai minoritas dan mayoritas. Antara lain, bagaimana gereja dapat menyikapi persoalan yang muncul, seperti SKB tahun 1969 yang kemudian diganti dengan PBM 2006. penginjilan dan dakwah, hubungan antara gereja dan agama lain, serta tantangan dan tanggung jawab warga gereja
Melalui tulisan-tulisan dalam buku ini, sosok Pendeta Yewangoe muncul sebagai seorang teolog, pemikir, dan pemimpin yang berdiri teguh mempertahankan gereja sebagai lembaga profetis di tengah masyarakat. Dengan gaya yang kritis dan profetis, ia fidak hanya menawarkan pemikiran teologis yang merespons isu kontemporer, tetapi ia juga menularkan sikap kritis, tegas, dan jelas dalam menghadapi isu yang mengancam integrasi bangsa, negara, dan rakyat negeri ini. Buku ini kiranya dapat menjadi referenu pergumulan gereja dalam menanggapi tantangan dan persoalan kontemporer
|