<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="20959">
<titleInfo>
<title>Epistemologi pemecahan masalah</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Taryadi, Alfons</namePart>
<role><roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Jakarta</placeTerm></place>
<publisher>Gramedia Pustaka Utama</publisher>
<dateIssued>1989</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Print</form>
<extent></extent>
</physicalDescription>
<note>DUA fenomen pokok dalam bidang pengetahuan ialah bahwa kita memiliki cukup banyak pengetahuan, tetapi sekaligus menyadari tidak terbatasnya ketidaktahuan kita. Menurut Popper, pengetahuan bertolak dari ketegangan antara dua fenomen tersebut. Titik pangkal pengetahuan adalah pro- blem, bukan pengamatan atau pengumpulan fakta. Untuk mendalami suatu hal, lebih bermanfaat mempelajari ben- trokan opini mengenai hal tersebut, daripada membuat pengamatan ke sana kemari tanpa tahu persoalannya.

Setiap teori, gagasan, atau tindakan menurut Popper - merupakan suatu upaya pemecahan problem tertentu. Sebagai suatu solusi tentatif, sebuah teori atau gagasan harus dikritik untuk ditemukan kesalahannya. Lewat kritik akan muncul problem baru yang tak terduga. Pada gilirannya, problem baru itu menantang untuk dipecahkan dengan teori atau gagasan baru. Demikian sehingga pertumbuhan penge- tahuan merupakan proses koreksi atas suatu teori yang satu oleh yang lain dalam usaha pemecahan problem yang tak ada habisnya. Di situ tampak bagaimana Popper mengopera- sionalkan wawasan yang mendalam atas fallibilitas pengeta-

huan manusia dengan suatu teori metodologis. Dengan menggabungkan secara kritis tradisi empirisme dan rasionalisme, epistemologi problem-solving menurut Popper menampilkan ciri-ciri objektif, rasional, kritis, plura- listis, tetapi juga realistis sekaligus imajinatif.</note>
<classification>121</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>Perpustakaan STTB Bandung Theological Seminary</physicalLocation>
<shelfLocator>121 Tar e</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">I92000202</numerationAndChronology>
<sublocation>Non Fiction</sublocation>
<shelfLocator>121 Tar e</shelfLocator>
</copyInformation>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">I94001051</numerationAndChronology>
<sublocation>Non Fiction</sublocation>
<shelfLocator>121 Tar e</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<recordInfo>
<recordIdentifier>20959</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2014-03-24 11:41:53</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-08-27 18:13:47</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>