<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="20612">
<titleInfo>
<title>Gaya filsafat nietzsche</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Wibowo, A. Setyo</namePart>
<role><roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm></place>
<publisher>Galang Press</publisher>
<dateIssued>2004</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent></extent>
</physicalDescription>
<note>Nietzsche seorang seniman yang tidak pernah berhenti mencari. Apa yang sudah diperolehnya, direfleksikannya, dan diungkapkannya lagi dan lagi, sampai mencuat nuansa- nuansa baru, yang tak terduga. Ketakterdugaan itu lahir bukan sebagai sesuatu yang tadinya terpendam dan kemudian muncul, melainkan sebagai sesuatu yang baru yang benar-benar bisa muncul hanya karena suatu pencarian kreatif seorang seniman, yang tak pernah mau menyerah pada forma apa pun yang telah ada atau yang telah diraihnya.

Dengan gaya filsafatnya yang khas, Nietzsche bisa mendobrak segala kemapanan, kepuasan diri, dan forma apa pun. Dengan menelaah gaya filsafatnya, penulis buku ini akhirnya menunjukkan bahwa Nietzsche tidak bisa dipojokkan pada sudut mana pun. Nietzsche telah membunuh Tuhan. Tapi kita harus hati-hati untuk menggelarinya sebagai &#34;pembunuh Tuhan&#34;. Seluruh keresahan filsafatnya justru bisa membantu kita untuk memurnikan Tuhan dari kekerdilan anggapan kita tentang- Nya, dan dengan demikian menakhtakan-Nya di atas kekerdilan kita.

Nietzsche melakukan suatu refleksi filsafat yang ateis. Namun kita mesti berhati-hati untuk menyudutkannya sebagai seorang ateis. Dengan filsafatnya, ia justru memperolok mereka yang merasa telah mencapai pencerahan dengan jalan ateisme mereka. Ateisme Nietzsche malah bisa menuntun kita untuk melihat apa yang seharusnya paling mistik dalam relasi kita dengan Tuhan. Dalam hal ini, Nietzsche yang a-religius itu sesungguhnya adalah orang yang sangat religius.</note>
<subject authority=""><topic>Filsafat</topic></subject>
<classification>100</classification><identifier type="isbn">9793627123</identifier><location>
<physicalLocation>Transformatio Library Bandung Theological Seminary</physicalLocation>
<shelfLocator>100 Wib g</shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">I06000094</numerationAndChronology>
<sublocation>Non Fiction</sublocation>
<shelfLocator>100 Wib g</shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:image>Gaya_filsafat_nietzsche.jpg</slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier>20612</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2014-03-14 16:40:27</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-07 16:02:58</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>